Akidah Ahlussunah Waljamaah

KEBANGKITAN SESUDAH MATI

Orang-orang yang dalam ilmu agama dan sunnahnya meyakini adanya kebangkitan sesudah mati di hari kiamat, dan segala apa yang dikabarkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa suasana mencekam pada hari kiamat, beraneka ragam keadaan hamba dan makhluk ketika melihat dan menerima hasil perbuatannya. Bagaimana mereka menerima catatan amal apakah dengan tangan kanan atau tangan kiri, menjawab berbagai pertanyaan, serta kegoncangan yang dijanjikan Allah.

Pada hari yang agung, dalam suasana yang mencekam dibentangan sirath, timbangan, catatan amal meskipun hanya sebutir dzarrah kebaikan dan lain sebagainya

SYAFA’AT

Orang-orang yang dalam ilmu agama dan sunnahnya meyakini adanya syafa’at Nabi untuk para pelaku dosa besar dari kalangan ahlu tauhid, dan yang melakukan dosa-dosa besar dikalangan mereka, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Syafa’atku diberikan bagi pelaku dosa-dosa besar dari kalangan umatku” 9

Abu Hurairah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: “Yaa Rasulullah, siapakah yang paling senang mendapat syafa’atmu pada hari kiamat?” Beliau menjawab: “Aku mengira tak seorangpun yang menanyakan hal ini sebelum kamu, hal ini karena aku melihat kamu bersemangat dalam mencari hadits, “Orang yang paling senang mendapat syafa’atku pada hari kiamat yaitu orang yang mengucapkan laila ha illallah dengan jujur dari sanubarinya” 10

9 Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan lainnya, dikatakan oleh Tirmidzi hadits ini hasan shahih

10 HR. Bukhari, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abi ‘Ashim dan yang lainnya.

Ibnu Hajar mengomentari dalam Fathul Bari: “Ada yang dengan syafa’at itu tidak jadi dimasukkan ke neraka, ada yang menjadi masuk sorga tanpa hisab, ada yang derajatnya di surga dinaikkan

AL-HAUDH DAN TELAGA AL-KAUTSAR

Ashhabul Hadits mengimani adanya haudh dan Telaga Al-Kautsar, serta masuknya sebagian Ahlu Tauhid ke surga tanpa hisab, dan sebagian dari mereka dihisab dengan hisab yang ringan dan kemudian dimasukkan ke surga tanpa diadzab terlebih dahulu. Dan sebagian lagi para pelaku dosa besar dilebur dalam neraka kemudian dibebaskan dan dikeluarkan darinya, kemudian digabungkan dengan saudara-saudaranya yang telah mendahului masuk surga, [dan Ashhabul Hadits meyakini bahwa yang berdosa besar dari kalangan Ahlu Tauhid] tidak kekal di neraka [dan tidak akan tinggal di neraka selama-lamanya]

Adapun orang kafir akan kekal di neraka dan tidak akan keluar darinya selama-lamanya.

KAUM MU’MININ MELIHAT ALLAH DI AKHIRAT

Ahlus Sunnah bersaksi bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka (pada hari kiamat) dengan mata kepala mereka, dan memandang-Nya sebagaimana dalam hadits shahih, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh kalian akan melihat Rabb sebagaimana kalian melihat bulan purnama”

keserupaan dalam hadits ini adalah cara melihatnya yang tidak mendapat kesulitan (berdesak-desakan), bukan bentuk yang dilihat (Allah dengan bulan purnama)

MENGIMANI ADANYA SURGA DAN NERAKA, KEDUANYA ADALAH

MAKHLUK

Ahlus Sunnah bersaksi (dan berkeyakinan) bahwa surga dan neraka adalah makhluk ciptaan Allah, dan keduanya kekal abadi-tidak akan musnah.

Orang yang masuk surga tidak akan keluar darinya, demikian juga penduduk neraka (dari golongan kafir) yang pantas memasukinya dan diciptakan untuk memasukinya, mereka juga tidak akan keluar darinya.

(kematian akan dipenggal dan disembelih dibatas antara surga dan neraka, lalu datanglah suara memanggil) pada hari itu:

“Wahai penghuni surga, kekekalan bagimu dan tidak ada lagi kematian. Wahai penghuni neraka, kekekalan bagimu dan tidak ada lagi kematian.” Demikian yang diriwayatkan dari hadits yang shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. 11

IMAN MENCAKUP UCAPAN DAN PERBUATAN, BERTAMBAH DAN

BERKURANG

Termasuk pemahaman Ahlu Hadits adalah meyakini bahwa iman adalah ucapan, perbuatan, dan ma’rifah, bisa berkurang karena kemaksiatan dan bertambah karena ketaatan.

PERBUATAN HAMBA ADALAH CIPTAAN ALLAH

Termasuk diantara pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah keyakinan bahwa perbuatan hamba adalah makhluk (diciptakan oleh) Allah ‘azza wa jalla.

Mereka tidak ada yang membantah permasalahan ini, sebaliknya mereka menganggap orang-orang yang mengingkari hal ini sebagai orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dan petunjuk
HIDAYAH DATANGNYA DARI ALLAH

Mereka (Ashabul Hadits) bersaksi bahwa Allah ta’ala memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki menuju Agama-Nya dan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki untuk menjauhi Agama-Nya, namun bagi orang yang disesatkan-Nya tidak ada alasan (untuk bebas dari siksa-Nya).

Allah berfirman:

قُلْ فَلِلّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاء لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ

“Katakanlah: “Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya”. (Al-An’am:149)

Allah berfirman:

وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi) nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) daripadaku; “Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. (as-sajdah:13)

Allah juga berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi nereka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. (Al-A’raf:179)

Maha suci Allah yang telah menciptakan makhluk tanpa merasa butuh kepada mereka. Allah menciptakan mereka dalam 2 golongan. Satu golongan berhak masuk kedalam tempat kenikmatan sebagai keutamaan yang Allah berikan, dan golongan yang lain dimasukkan ke neraka sebagai keadilan.

Allah menjadikan diantara mereka ada yang tersesat dan ada yang terbimbing, ada yang celaka dan ada yang bahagia. Ada yang dekat dengan rahmat-Nya dan ada yang jauh dari rahmat-Nya.

Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ

“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (Al-Anbiya’:23)

Allah berfirman:

أَلاَ لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ تَبَارَكَ اللّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. (Al-A’raf:54)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوما نطفة ثم علقه مثل ذلك ثم يكون مضغة مثل ذلك , ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح , ويؤمر بأربع كلمات : بكتب رزقه , وأجله , وعمله , وشقي أم سعيد . فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار , وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة

“Sesungguhnya bakal penciptaan seseorang diantara kamu dikumpulkan dalam perut ibunya dalam 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk menetapkan 4 perkara : rizkinya, ajalnya, amal perbuatannya, ia celaka atau bahagia. Maka demi Allah yang tiada tiada Tuhan selain Dia, sungguh seorang diantara kamu ada yang melakukan amalan ahli syurga hingga tidak ada diantara dia dan syurga itu kecuali sehasta saja, kemudian dia didahului oleh taqdir Allah, lalu ia melakukan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk neraka. Dan sungguh salah seorang diantara kamu melakukan amalan-amalan ahli neraka, sehingga tidak ada anatara dia dan neraka kecuali sehasta saja, maka ia didahului oleh takdir Allah, lalu ia melakukan amalan ahli syurga, maka ia pun masuk syurga” 15

15 HR.Bukhari, Muslim dan lainnya

KEBAIKAN DAN KEJELEKAN

Ahlus Sunnah bersaksi dan berkeyakinan bahwa kebaikan dan kejelekan, manfa’at dan mudarat (kejadian yang manis maupun yang pahit) semuanya dari takdir dan ketentuan Allah ta’ala, tidak ada yang mampu mencegahnya, menyimpangkan atau menjauhkannya.

Seseorang tidak akan tertimpa suatu musibah melainkan apa yang telah ditakdirkan. Meskipun seluruh makhluk berusaha keras untuk menolong orang tersebut, akan tetapi Allah menakdirkan untuk tertimpa musibah maka usaha tersebut tidak berhasil.

Demikian juga meskipun seluruh makhluk berusaha untuk mencelakakan dirinya akan tetapi orang tersebut tidak ditakdirkan celaka, maka usaha tersebut tidak akan berhasil, hal ini sebagaimana hadits dari Ibnu Abbas radiallahu’anhu. 16

Allah berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ

“Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya..”(Yuunus:107)

Termasuk dari pemahaman dan manhaj Ahlus Sunnah -selain keyakinan mereka bahwa kebaikan dan kejelekan semuanya dari takdir Allah- mereka juga menetapkan bahwa tidak diperkenankan menyandarkan kepada Allah apa-apa yang berkesan negatif bila diucapkan secara terpisah. Tidak boleh dikatakan, misalnya: Allah itu pencipta monyet, babi, kumbang kelapa dan jangkrik, meskipun kita tahu tidak ada makhluk yang tidak diciptakan oleh Allah. Dalam hal ini terdapat hadits tentang do’a istiftah: “Sungguh Maha Suci dan Maha Tinggi Engkau ya Allah, kebaikan seluruhnya di keduatangan-Mu dan kejelekan tidak disandarkan kepada-Mu” 17

Maksudnya, wallahu a’lam, kejelekan tidak termasuk yang bisa disandarkan kepada Allah secara terpisah, seperti: “Wahai Pencipta keburukan, atau wahai yang menakdirkan kejelekan”. Meskipun benar bahwasanya Dia-lah yang menciptkan dan menakdirkan kejelekan tersebut.

Oleh karena itu Nabi Khidir ‘alaihis salam menyandarkan kehendak untuk merusak perahu kepada dirinya sendiri, seperti dikisahkan dalam Al-Qur’an:

“Adapun kapal itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku hendak merusakkan kapal itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap kapal. (Al-Kahfi:79)

Namun ketika beliau menyebutkan kebaikan, kebajikan, dan rahmat, beliau menyandarkan kehendaknya kepada Allah, Allah ta’ala berfirman:

فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ

“..maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu..”(Al-Kahfi:82)

Allah juga memberitakan tentang diri Ibrahim ‘alaihis salam dalam firman-Nya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“dan apabila aku sakit. Dialah Yang menyembuhkan aku, (Asy-Syu’ara:80)

Beliau menyandarkan sakit kepada dirinya sendiri dan menyandarkan kesembuhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Meskipun keduanya datang dari Allah Yang Maha Mulia

16 Yakni sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Ketahuilah, bahwa seseungguhnya seandainya bersatu umat manusia untuk memberikan manfa’at padamu dengan sesuatu, niscaya tiadalah mereka dapat melakukannya kecuali dengan sesuatu yang ditakdirkan Allah kepadamu, dan seandainya mereka bersatu untuk mencelakakan kamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan dapat mencelakakan kamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah takdirkan kepadamu. Telah diangkat pena (untuk menulis takdir) dan telah kering lembaran-lembaran itu (HR. Turmudzi dll dan dikatakan hasan shahih)

17 Dikeluarkan oleh:Ahmad, Muslim dan lainnya
KEHENDAK ALLAH ‘AZZA WA JALLA

Demikian juga termasuk madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah, bahwa Allah ‘azza wa jalla berkehendak atas semua amal perbuatan hamba-hamba-Nya, yang baik maupun yang jelek.

Tidak ada seorang pun yang beriman kecuali dengan kehendak-Nya. Dan tidak ada seorangpun yang kafir kecuali dengan kehendak-Nya. Jika Allah menhendaki, niscaya Allah jadikan mereka satu umat, sebagaimana firman Allah:

وَلَوْ شَاء رَبُّكَ لآمَنَ مَن فِي الأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعاً

“Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya..”(Yuunus:99)

Kalau Allah menghendaki untuk tidak terjadi kemaksiatan, Allah tidak ciptakan Iblis. Maka kekufuran orang yang kafir, keimanan orang yang beriman, (keingkaran orang atheis, tauhidnya ahli tauhid, ketaatan orang yang taat, dan kemaksiatan orang yang bermaksiat) semuanya terjadi kerena ketentuan, takdir, keinginan dan kehendak-Nya.

Dan Allah menghendaki semuanya itu dan menakdirkannya. Namun Allah meridhai keimanan dan membenci kekufuran dan kemaksiatan. Allah berfirman:

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman) mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.”(Az-Zumaar:7)

Sufyan bin Uyainah menyatakan: “Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang”, maka saudaranya yang bernama Ibrahim bin Uyainah berkata: “Wahai Abu Muhammad, tadi kamu mengatakan iman bisa berkurang?!” Maka Sufyan bin Uyainah berkata: “Diam kamu ‘anak kecil’ Sungguh iman bisa berkurang hingga tidak tersisa sedikitpun.”

Ibnu Mubarak rahimahullah suatu ketika datang ke kota, salah sorang ahli ibadah tiba-tiba mendatanginya -yang diperkirakan berpemahaman khawarij- lalu ia bertanya kepada Ibnu Mubarak: “Wahai Abu Abdirrahman, apa pendapatmu terhadap seorang pezina, pencuri, dan peminum khamar”, Beliaupun menjawab: “Aku tidak mengeluarkannya dari keimanan.” maka laki-laki itu menukas: “Kamu sudah tua malah menjadi murji’ah”, maka Ibnu Mubarak menjawab: “Tidak, justru kami bertentangan dengan murji’ah, Murji’ah menyatakan kebaikan kita pasti diterima, sedangkan kemaksiatan kita pasti diampuni”. Seandainya aku (Ibnul Mubarak) tahu bahwa kebaikanku diterima, niscaya aku bersaksi bahwa aku masuk surga, kemudia ia menukil ucapan Umar bin Khatab: “Seandainya imannya Abu Bakar dibandingkan dengan imannya seluruh penduduk Bumi, niscaya imannya Abu Bakar lebih berat”

HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT DENGAN SENGAJA

Ulama Ahli Hadits berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan shalat wajib dengan sengaja.

Imam Ahmad dan banyak ulama salaf13 menganggap kafir orang tersebut dan mengeluarkannya dari Islam, berdasarkan hadits shahih bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Yang membatasi antara seorang hamba dan kemusyrikan adalah meninggalkan shalat. Siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” 14

Sementara Imam Syafi’i, para sahabatnya dan banyak ulama salaf menganggap orang tersebut belum kafir, selama masih meyakini kewajiban shalat tersebut. Akan tetapi mereka berpendapat bahwa orang tersebut harus dibunuh, sebagaimana dibunuhnya orang-orang murtad.

Mereka menafsirkan sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam:

“Siapa yang meninggalkan shalat (dengan mengingkari kewajibannya) maka ia kafir”

Hal itu sebagaimana firman Allah:

إِنِّي تَرَكْتُ مِلَّةَ قَوْمٍ لاَّ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَهُم بِالآخِرَةِ هُمْ كَافِرُونَ

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka kafir (ingkar) kepada hari kemudian” (Yuusuf:37).

Beliau (Yusuuf) meninggalkan mereka bukan karena tindakan yang belum jelas kekufurannya, namun karena mereka mengingkari (Allah dan hari akhir).

13 Diantara mereka: Ishaq bin Rahawaih, Ibnul Mubarak, Ibrahim An-Nakha’i, Al-Hakam bin Utaibah, Ayyub As-Sakhtiyani, Abu Bakar bin Syaibah, Abu Khaitsamah, Zuhaeir bin Harab dan lainnya. Adapun dari kalangan: Sahabat: Umar bin Khatab, Mu’adz bin Jabal, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdullah, Abu Darda dan lainnya.

14 Dikeluarkan oleh Ibnu Nashar, Muslim, Ahmad dan lainnya.

HASIL AKHIR KEHIDUPAN PARA HAMBA ADALAH HAL GHAIB

Ahlus Sunnah bersaksi dan berkeyakinan bahwa hasil akhir kehidupan para hamba adalah hal yang ghaib. Seseorang tidak mengetahui bagaimana ia mengakhiri hidupnya.

Mereka tidak menghukumi seseorang bahwa dia calon penghuni syurga atau calon penghuni nereka, kerena hal itu merupakan perihal ghaib. Mereka tidak mengetahui dengan apa mereka mengakhiri hidupnya (apakah dengan keimanan atau dengan kekufuran).

Oleh karena itu mereka mengatakan: “Mukmin insya Allah” (artinya: termasuk dari mukminin yang mengakhiri hidupnya dengan kebaikan, insya Allah)
PERSAKSIAN TERHADAP ORANG YANG MATI DENGAN KEYAKINAN YANG DIBAWANYA

Ahlus Sunnah bersaksi atas orang yang mati dalam keadaan Islam akan masuk syurga. Dan jika ia ditakdirkan oleh Allah untuk disiksa terlebih dahulu di dalam neraka karena perbuatan dosa-dosanya yang belum bertaubat, maka adzab itu tidak kekal, pada akhirnya Allah akan masukkan dia ke Syurga. Tidak ada seorangpun dari muslimin yang akan kekal di neraka sebagai keutamaan dari Allah.

Dan siapa yang mati dalam keadaan kafir -Wal ‘iyadzu billah-, maka tempat kembalinya adalah neraka dan akan kekal didalamnya.
MEREKA YANG MENDAPAT KABAR GEMBIRA MASUK SYURGA

Dari kalangan sahabat yang mendapat kabar gembira (dengan disebutkan namanya), maka Ashabul Hadits mengakui hal itu dan membenarkannya atas berita dan janji tersebut, Karena beliau tidak akan mempersaksikan hal itu kecuali setelah mengetahuinya.

Allah subhanahu wa ta’ala memberitahu sebagian ilmu ghaib yang dikehendakinya, sebagaimana firman Allah:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَداً – إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِن رَّسُولٍ

“(Dia adalah Rabb) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya..”(Al-Jinn: 26-27)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi kabar gembira kepada sepuluh orang sahabatnya bahwa mereka akan masuk surga, yaitu: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubeir, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id (bin Zaid ), dan Abu Ubadah bin Jarrah. 18

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada Tsabit bin Qis bin Syammas: “Kamu termasuk ahli syurga”.

18 Hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Zaid secara marfu’
SAHABAT-SAHABAT YANG PALING UTAMA DAN MASA KEKALIFAHANNYA

Ahlus Sunnah juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa sahabat Rasulullah yang paling utama adalah: Abu Bakar, kemudian Umar, Kemudian Utsman, Kemudian Ali. Mereka adalah para khalifah yang mendapat petunjuk, yang kekhalifahan mereka diberitakan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan sabdanya: “Kekhalifan sesudahku berlangsung selama tiga puluh tahun” [Kemudian beliau menambahkan: Abu Bakar memegang pemerintahan selama 2 tahun, Umar 10 tahun, Utsman 12 tahun dan Ali 6 tahun]. 19

Setelah masa pemerintahan mereka, urusan dikuasai oleh penguasa-penguasa yang jahat sebagaimana diberitakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. 20

Ash-habul Hadits menetapkan kekhalifahan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu setelah kematian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan pemilihan, kesepakatan dan pendapat mereka yang kompak.

Mereka menyatakan: “Kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah meridhai Abu Bakar untuk urusan agama maka kami ridha kalau Abu Bakar mengurusi permasalahan dunia bagi kami” [Yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pengganti untuk mengimami manusia dalam shalat fardhu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit dan ini merupakan urusan agama, maka kami ridha Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam urusan dunia kami].

Kemudian Kekhalifahan Umar bin Khatab dengan dipilih oleh Abu Bakar yang kemudian disepakati oleh para Sahabat yang lain. Dan dengan kekhalifahannya itu Allah merealisasikan janji-Nya untuk meninggikan dan mengagungkan syi’ar Islam. Kemudian Kekhalifahan Utsman bin Affan melalui ijma’ majelis syura dan ijma para sahabat secara keseluruhan.

Kemudian kekhalifahan ‘Ali dengan dibaiat oleh para sahabat, setelah melihat bahwa ‘Ali adalah yang paling berhak dan paling mulia pada masa itu untuk memegang kekhalifahan dan tidak membolehkan tindakan menentang dan menyelisihi pemerintahan beliau.

Mereka adalah empat Khulafa’ ar-Rasyidin yang dengannya Allah memenangkan agama-Nya, mengalahkan orang-orang kafir, dan kedudukan Islam menjadi kokoh. Allah berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan beramal shalih bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di Bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa..”(An-Nuur:55)

Allah juga berfirman:

وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ

“…dan orang-orang yang bersama dia (Rasulullah) adalah keras terhadap orang kafir tetapi berkasih sayang sesama mereka..”

sampai kepada firman-Nya:

كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ

“..yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya, tanaman itu menyenangkan hati para penanamnya karena Allah hendak membuat jengkel hati orang-orang kafir…”(Al-Fath:29)

Maka siapa yang mencintai mereka, berwala’ kepada mereka, mendoakan dan memelihara hak mereka serta mengakui keutamaan mereka, maka ia termasuk orang-orang yang menang. Sebaliknya, siapa yang membenci dan mencaci mereka, menuduh kepada mereka seperti yang dituduhkan oleh orang-orang Rafidhah (syiah imamiah) dan khawarij -semoga Allah melaknat mereka-, maka ia termasuk orang-orang yang binasa.

19 Diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan lainnya, dihasankan oleh Ibnu Abi ‘Ashim.

20 Diriwayatkan oleh Ahmad dan lainnya dengan sanad hasan.
SHALAT DI BELAKANG (PEMERINTAH) YANG SHALIH MAUPUN FAJIR, SERTA BERJIHAD BERSAMA MEREKA

Ash-habul Hadits berpendapat seharusnya melaksanakan shalat Jum’at, shalat ‘Ied dan selain keduanya dibelakang imam muslimin baik dia shalih maupun fajir.

Mereka juga berpendapat bahwa berjihad melawan orang-orang kafir itu bersama pemerintah meskipun mereka zhalim dan fasiq.

Mereka juga menganjurkan untuk mendo’akan mereka agar menjadi baik dan mendapat hidayah (serta menebarkan keadilan dalam masyarakat).

Mereka juga tidak membolehkan untuk memberontak kepada pemimpin-pemimpin fasiq tersebut, meskipun mereka menyaksikan penyimpangan pemerintah dari konsep keadilan dan menggantinya dengan diktatorisme dan penindasan.

Mereka juga berpendapat untuk memerangi para pemberontak sampai orang-orang itu kembali taat kepada pemerintah.
SIKAP MEREKA TERHADAP PARA SAHABAT

Mereka berpendapat untuk menahan diri [untuk membicarakan] dalam perselisihan yang terjadi dikalangan sahabat. Memelihara lisan mereka untuk tidak mengucapkan kata-kata yang berkesan mendiskreditkan (menyudutkan) dan merendahkan para sahabat.

Ash-habul Hadits berpendapat, seharusnya mencintai mereka dan berwala’/loyalitas kepada mereka secara keseluruhan. Demikian juga mereka menganggap wajib memuliakan para istri-istri beliau radhiallahu ‘anhunna, mendoakan mereka, mengakui keutamaan mereka dan mengakui juga istri-istri Nabi sebagai ibu-ibu kaum muslimin.
SESEORANG MASUK SURGA BUKAN KARENA AMALNYA

Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa seseorang tidak bisa dipastikan masuk surga -walaupun ia telah melakukan amalan-amalan yang baik [ibadahnya nampak ikhlas, dan ketaatannya demikian tinggi] dan jalan kehidupannya pantas untuk diteladani- kecuali jika di izinkan oleh Allah, sebagai keutamaan yang diberikan kepadanya. Maka dengan keutamaan dan karunia-Nya itu ia masuk surga.

Karena amal baik yang ia lakukan tidaklah dapat dilakukan dengan mudah kecuali karena kemudahan dari Allah. Jika Allah tidak memberi kemudahan [niscaya ia tidak dapat melakukannya. Dan jika Allah tidak mengarunianya hidayah] niscaya ia tidak mendapat hidayah selama-lamanya, [meskipun ia telah berupaya keras]. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ

“…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…”(An-Nuur:21)

Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga:

وَقَالُواْ الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَـذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللّهُ

“..Dan mereka berkata: “segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk..” (Al-A’raaf:43)
SETIAP MAKHLUK TELAH DITENTUKAN AJALNYA

Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menentukan batas akhir kehidupan bagi setiap makhluk.

Sesungguhnya setiap jiwa itu tidak akan mati kecuali dengan izin Allah dan takdir dari-Nya. Apabila sudah ditakdirkan waktunya mati, maka tidak ada pilihan lagi kecuali mati. Tidak bergeser sedikitpun.

Allah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak pula memajukannya” (Al-A’raaf:34)

Allah juga berfirman:

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلاَّ بِإِذْنِ الله كِتَاباً مُّؤَجَّلاً

“Setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah sebagai ketentuan yang telah ditetapkan waktunya.” (Ali-Imran:145)

Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa siapa yang mati atau terbunuh, maka hal itu merupakan takdir. Allah berfirman:

قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَى مَضَاجِعِهِمْ

“Katakanlah: “Sekiranya kamu berada dirumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ketempat mereka terbunuh…”(Ali-‘Imran:154)

Allah juga berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ

“Dimanapun kamu berada, kematian akan menemuimu, walaupun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…”(An-Nisaa:78)
GODAAN SYAITAN

Mereka juga bersaksi dan berkeyakinan bahwa Allah subhanu wa ta’ala telah menciptakan syaitan yang akan menggoda umat manusia, agar mereka tergelincir, maka syaitan-syaitan itu terus mengawasi mereka, Allah berfirman:

وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu membisikan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musrik..”. (Al-An’am:121)

Allah dapat memberi kuasa atas diri mereka (syaitan) untuk menggoda siapa saja yang Allah kehendaki. Namun Allah juga menjaga siapa saja yang dikehendaki dari tipu daya mereka, Allah berfirman:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ – إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ

“Sesungguhnya syaitan itu tidak mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Allah, Sesungguhnya kekuasaanya (syaitan) itu hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya menjadi pemimpin dan atas orang-orang yang menyekutukan Allah.”. ( An-Nahl: 99 -100)
SIHIR DAN TUKANG SIHIR

Mereka (Ashabul Hadits) juga berkeyakinan bahwa di dunia ini memang ada sihir dan tukang sihir, akan tetapi tukang sihir tersebut tidak dapat mencelakakan seseorang kecuali dengan izin Allah ‘azza wa jalla, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللّهِ

“Dan mereka (tukang sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah ..”(Al-Baqarah:102)

Siapa yang menjadi penyihir atau menggunakan jasa sihir, sementara ia berkeyakinan bahwa sihir bisa memberi manfaat atau memberi mudharat tanpa izin Allah, maka ia telah kafir kepada Allah ta’ala.

Apabila seseorang telah melakukan hal-hal yang secara dzahir dapat membuatnya kafir itu, maka ia harus dipaksa untuk bertaubat, kalau enggan dipenggal lehernya (oleh penguasa muslim).

Namun apabila ia hanya melakukan perkara sihir yang tidak sampai mengkufurkan dirinya, atau misalnya mengucapkan sesuatu yang dia sendiri tidak memahaminya, maka cukup dicegah saja. Kalau enggan, maka diberikan hukuman cambuk.

Apabila seseorang berpendapat bahwa sihir itu tidaklah haram, bahkan meyakininya boleh-boleh saja, maka orang itu harus dibunuh karena ia telah membolehkan apa yang telah menjadi kesepakatan umat Islam (Ulama) bahwa sihir itu haram.
ADAB DAN PERILAKU ASHABUL HADITS

Mereka (Ashabul Hadits) mengharamkan minuman yang memabukkan yang diproses baik dari anggur, korma, madu, jagung dan lain sebagainya yang memabukkan, mereka mengharamkannya baik sedikit maupun banyak. 21

Mereka menghindarinya dan mengharuskan bagi yang mengkonsumsinya untuk dihukum.

Mereka berpendapat seharusnya bersegera menunaikan shalat lima waktu, dan melakukan diawal waktu lebih utama dari pada di akhir waktu. Hal demikian untuk mendapatkan pahala yang lebih besar yang telah dijanjikan. 22

Mereka juga mewajibkan ma’mum untuk membaca Al-Fatihah dibelakang imam Mereka memerintahkan untuk menyempurnakan ruku’, sujud, serta mewajibkannya. Mereka berpendapat bahwa kesempurnaan ruku’ diantaranya dengan adanya tu’maninah dan menegakkan punggung ketika bangkit dari ruku’ yang disertai juga dengan tu’maninah. Demikian juga ketika bangkit dari sujud, duduk diantara dua sujud, semuanya itu dengan tu’maninah. Mereka berpendapat semuanya itu sebagai rukun sahnya shalat.

Mereka saling menganjurkan untuk melakukan shalat malam setelah tidur, menyambung tali silaturahim, menebarkan salam, memberi makan fakir miskin, menyayangi anak-anak yatim dan memperhatikan urusan kaum muslimin. Dan menjaga kehalalan makanan, minuman, pakaian, pernikahan dan aktifitas lainnya.

Mereka juga menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, bersegara melakukan kebajikan sebanyak-banyaknya, [hati-hati terhadap akibat sifat ketamakan, saling menganjurkan untuk istiqamah diatas kebenaran dan bersabar], saling mencintai dan benci karena agama. Mereka juga menghindari perdebatan, mereka menghindari ahli bid’ah dan kesesatan dan memusuhi ashabul ahwa’ (pengikut hawa nafsu) dan orang-orang yang berkata tanpa ilmu.

Mereka mengikuti jejak Nabi, para sahabatnya serta para ulama salafaus shalih.

Mereka membenci ahli bid’ah yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam agama, tidak mencintai dan tidak bersahabat dengan mereka, tidak mendengarkan ucapan-ucapan mereka, tidak duduk dimajelis mereka, tidak berdebat serta tidak bertukan pikiran dengan mereka.

Mereka menjaga telinga-telinga mereka dari mendengarkan ucapan-ucapan ahli bid’ah walaupun sepertinya selintas namun bisa menimbulkan keraguan dan merusak pemahaman. Allah telah mengingatkan dalam firmannya:

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olokan ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain”. (Al-An’am: 68).

21 Hal ini sebagaimana hadits Nabi:

“Setiap yang memabukkan adalah khamar, dan setiap khamar adalah haram. “(HR.Ahmad, Muslim dll). Dan Sabda Nabi:

“Setiap yang memabukkan dalam jumlah yang banyak, maka dalam jumlah sedikit juga haram.”(HRAhmad, Abu Daud dll, hadits hasan)

22 Hal ini berdasarkan hadits:

“Tidak ada shalat (tidak sah) bagi yang tidak membaca Al-Fatihah.” (HR. Bukhari).

Namun kewajiban membaca Al-Fatihah ini berlaku ketika shalat sirriyah (yang bacaan imam tidak dikeraskan, seperti: Dzuhur, Ashar). Adapun shalat jahriyah (yang bacaan imam dikeraskan, seperti: Subuh, Maghrib, ‘Isya) maka cukup dengan mendengarkan bacaan imam. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, apabila ia bertakbir maka betakbirlah, dan apabila ia membaca qiraat maka dengarkanlah”. (HR. Abu Daud, Muslim dan lainnya).

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

“Siapa yang mempunyai imam maka bacaan imam adalah bacaan baginya.” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Abu Daud dan lainnya). Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Nasiruddin Al-Albany dalam ‘Sifat Shalat Nabi’. wallahu a’lam

CIRI-CIRI AHLI BID’AH

Ciri-ciri ahli bid’ah sangat jelas dan terang, yang paling menonjol diantaranya adalah: kebencian mereka kepada para pembawa riwayat hadits, merendahkannya, dan menggelarinya dengan: penghafal catatan kaki, orang-orang dungu, orang-orang tekstual atau musyabihah (orang-orang yang menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk). Mereka meyakini adanya makna bathin dari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka menafsirkan hanya dengan otak mereka yang telah dirusak oleh syaitan, hati nurani mereka teleh rusak, dan argumentasi dan pemikiran mereka sangat rancu dan berantakan. Allah berfirman:

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ

“Mereka itulah orang-orang yang dilaknati oleh Allah dan ditulikan telinganya dan dibutakan penglihatan mereka.” (Muhammad:23).

Ahmad bin Sinan Al-Qaththan berkata: “Di kolong langit ini, tidak seorangpun ahli bid’ah yang tidak membenci ahli hadits, karena ketika orang itu telah berbuat bid’ah maka ia akan kehilangan kemanisan ilmu hadits dalam hatinya”.

Abu Hatim Muhammad bin Idris Al-Hanzali Ar-Razi berkata: “Ciri-ciri ahli bid’ah yaitu suka mengolok-olok ahlu atsar (ahli hadits), dan termasuk ciri-ciri orang zindiq (munafiq) yaitu suka menggelari ahli atsar sebagai penghafal catatan kaki, yang mereka inginkan adalah membatalkan atsar sebagai sumber hukum.

Termasuk ciri-ciri qadariyah (orang-orang yang mengingkari adanya takdir) adalah menggelari ahlus sunnah dengan jabariyah (orang-orang yang bergantung kepada takdir dan meninggalkan usaha).

Diantara ciri-ciri jahmiyyah (orang-orang yang mengingkari nama-nama dan sifat Allah) adalah menggelari ahlus sunnah dengan sebutan musyabihah (orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk).

Diantara ciri-ciri rafidhah (syiah) adalah menggelari ahlus sunnah dengan sebutan nabithah dan nashibah (orang-orang yang membenci ahli bait).

Abu ‘Utsman berkata: “Saya melihat bahwa ahli bid’ah yang menggelari ahlus sunnah [namun dengan karunia dari Allah, tuduhan tersebut tidaklah benar dan tidak pantas disandarkan kepada ahlus sunnah] mereka (ahli bid’ah) mengikuti jalannya musrikin [semoga Allah melaknat mereka] yang menggelari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan gelar-gelar yang tidak pantas. Diantaranya ada yang menggelari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, dukun, ahli sya’ir, orang gila, orang kesurupan, pembohong, tukang nyleneh dan lain sebagainya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat jauh dari semua ‘aib tersebut. Beliau adalah Nabi dan Rasul yang terpilih. Allah berfirman:

انظُرْ كَيْفَ ضَرَبُوا لَكَ الْأَمْثَالَ فَضَلُّوا فَلَا يَسْتَطِيعُونَ سَبِيلاً

“Perhatikanlah, bagaimana mereka membuat perbandingan-perbandingan tentang kamu, lalu sesatlah mereka, mereka tidak sanggup (mendapatkan) jalan (untuk menentang kerasulanmu).” (Al-Furqan:9).

Demikian juga halnya dengan ahlu hadits yang diberi gelar-gelar buruk oleh ahli bid’ah padahal ahlu hadits sangat jauh dan bersih dari celaan tersebut. Ahlu hadits adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah yang bersih, sistem kehidupan yang diridhai oleh Allah ta’ala, jalan-jalan yang lurus dan hujjah yang kokoh.

Allah telah menganugrahi ahlu hadits untuk dapat meneladani apa yang terdapat dalam kitab-Nya, wahyu-Nya dan firman-Nya, meneladani Rasul-Nya dalam setiap hadits dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berlaku baik, dalam ucapan dan perbuatan serta mencegah mereka untuk berbuat kemungkaran.

Allah juga menolong ahlu hadits untuk dapat berpegang teguh dengan sistem kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Allah-pun menjadikan mereka sebagai pengikut para wali yang terdekat. Allah juga melapangkan dada mereka untuk mencintai beliau, mencintai para ulama umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya.” 23

23 HR. Bukhari, Ahmad dan lainnya
CIRI-CIRI AHLUS SUNNAH

Salah satu ciri ahlus sunnah adalah kecintaan mereka terhadap para imam sunnah dan ulamanya, para penolong dan para walinya. Dan mereka membenci tokoh-tokoh ahli bid’ah yang mereka itu mengajak kepada jalan menuju neraka dan menggiring pengikutnya menuju kehancuran. Allah telah menghiasi dan menyinari ahlus sunnah dengan kecintaan mereka kepada ulama-ulama ahlus sunnah, sebagai karunia dan keutamaan dari Allah ta’ala.

Ahlus sunnah juga sepakat untuk merendahkan ahli bid’ah, menghinakan mereka, menjauhi dan memboikot mereka serta menghindari untuk bersahabat dengan mereka.

Janganlah kamu tertipu oleh banyaknya ahli bid’ah, karena banyaknya jumlah ahli bid’ah dan sedikitnya ahlus sunnah merupakan tanda dekatnya hari kiamat, sebagaiman sabda Nabi:

“Sesungguhnya termasuk diantara tanda-tanda dekatnya hari kiamat yaitu sedikitnya ilmu dan menyebarluasnya kebodohan (dalam agama)” 24.

Ilmu itu sendiri merupakan sunnah dan kebodohan itu sendiri merupakan bid’ah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Iman itu akan mendekam di Madinah seperti ular yang mendekam dalam lubangnya.25

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah datang hari kiamat, sampai tidak terdengar lagi di muka bumi ini orang yang menyebut nama Allah, Allah, Allah Dalam riwayat lain disebutkan lailaha illallah. 26

Siapa yang pada hari ini berpegang teguh dengan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, melaksanakannya, istiqamah diatasnya serta mendakwahkannya, ia akan mendapatkan pahala yang lebih banyak dibandingkan dengan yang mengamalkan diawal munculnya Islam, sebagaimana sabda Nabi :”Sesungguhnya dibelakang hari nanti akan datang hari-hari yang penuh kesabaran. Orang yang berpegang teguh dengan apa yang kalian pegang teguh akan mendapat 50 kali pahala yang kalian peroleh”. Beliau ditanya (oleh sahabat) : “Mungkin 50 kali pahala diantara mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Bahkan 50 kali pahala kalian”. 27

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengatakan demikian bagi orang yang mengamalkan sunnah dimana pada masanya umat sudah rusak.

Ibnu Syihab Az-Zuhri mengatakan: “Mengajarkan sunnah itu lebih utama daripada ibadah selama 200 tahun”.

Suatu ketika Abu Muawiyah yang buta berbicara dengan Harun Ar-Rasyid, maka ia menyampaikan hadits: “Suatu saat Nabi Adam dan Musa ‘alaihima sallam berdebat tiba-tiba Ali bin Ja’far menyela: “Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, masa kehidupan Nabi Adam dan Nabi Musa kan berbeda masa yang lama”. Lalu khalifah Harun Ar-Rasyid menghardiknya: “Dia menceritakan kepadamu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kamu membantah dengan bagaimana mungkin?” Beliau terus mengulang-ulangi, sampai Ali bin Ja’far terdiam”.

Abu Utsman berkata: “Demikianlah seharusnya seseorang dalam mengagungkan hadits-hadits Nabi, menerimanya dengan sepenuh penerimaan, kepasrahan dan mengimaninya. Membantah orang yang menempuh jalan selain ini, sebagaimana yang dilakukan oleh Harun Ar-Rasyid -rahimahullah- terhadap orang yang berani membantah hadits dengan mengatakan: “Bagaimana mungkin?” yang tujuannya adalah membantah dan mengingkarinya. Padahal seharusnya ia menerima semua yang diberitakan oleh Nabi.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk diantara mereka yang ketika mendengar hadits kemudian mengikutinya. Berpegang teguh sepanjang hidup dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta menghindari hawa nafsu yang menyesatkan, pendapat-pendapat yang sesat dan berbagai kejahatan yang menghinakan dengan karunia dan keutamaan dari Allah ta’ala.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya serta para sahabat ridhwanullahu ‘Alaihi ajma’in.

24 HR. Bukhari, Muslim dan lainnya

25 HR. Bukhari, Muslim dan lainnya

26 HR. Ahmad, Muslim dan lainnya

27 HR. Ibnu Nashar dalam As-Sunnah dengan sanad shahih

About syaifulislami

Tebak za sendiri, nGa' Gaul

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip Saya

RSS Links My Quran

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Umpan yang Tidak Diketahui

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS islamhouse.com :: All items :: English

  • Khatma ِApp - keeps you close to the noble Quran Desember 4, 2016
    Khatma App - keeps you close to the noble Quran, remind you to read your Werd after Salah, including Tafasir and recitations.
  • Who Is Right? Desember 4, 2016
    In this book the author confirms that all people claim they follow the right religion but who is really right? He assumes we are all wrong and tries to start neutrally to the answer at the end of the book.
  • Masahif App Desember 4, 2016
    "Masahif provides recitations for the holy Quran by many of the well known reciters world wide, it also provides translarted recitations in many languages (English, French, Urdu and more). Recitations can be downloaded for offline usage as well as direct streaming through internet."
  • The Beautiful Names of Allah Desember 4, 2016
    This is a very interesting book that shows the beautiful names of Allah with a simple and concise meaning. It also mentions the evidence of each name with showing how many times it is mentioned in the Quran and the Sunnah.

Masukkan alamat email Anda untuk menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru kami melalui email, Gratis.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya

My Twitter

%d blogger menyukai ini: